Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

Rangkuman Buku "Teori Kesusasteraan" Karya Wellek dan Warren

A. Definisi dan Batasan  1. Sastra dan Studi Sastra Pertama-tama kita harus membedakan antara satra dan studi sastra. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni, sedangkan studi sastra adalah cabang ilmu pengetahuan. Memang susah mengaburkan perbedaan ini. Seorang penelaah sastra harus dapat menerjemahkan pengalaman sastranya dalam bahasa ilmiah, dan harus dapat menjabarkannya dalam uraian jelas dan rasional. Mungkin saja bahan studinya sedikit banyak mengandung unsur yang sangat tidak rasional. Namun, dalam hal ini posisi penelaah tidak lebih dari posisi seorang sejarawan seni rupa atau musik bahkan seorang ahli sosiologi atau anatomi. Jelas, hubungan sastra dan studi sastra menimbulkan beberapa masalah yang rumit. Jalan keluar yang pernah ditawarkan bermacam-macam. Sejumlah teoritikus menolak mentah-mentah bahwa telaah sastra adalah ilmu, dan menganjurkan “penciptaan ulang” (second creation) sebagai gantinya seperti yang dilakukan oleh Walter Pater dan Jhon Addi...

Ulasan Kumpulan Cerpen "Anjing Bulan" Karya Taufik Ikhram Jamil,dkk

Kumpulan cerpen dari beberapa penulis : Taufik Ikhram Jamil Zulkarnaen Ishak Isbedy Stiawan ZS Triyanto Triwikromo Bambang Agung Jurnal Cerpen Indonesia di terbitkan atas kerja sama Lembaga Kajian Kebudayaan AKAR Indonesia (LK2AI) dan Penerbit Logung Pustaka. Anjing Bulan merupakan Kumpulan cerpen yang berasal dari jurnal cerpen Indonesia yang diketuai oleh Joni Ariadinata. Dalam kumpulan cerpen Anjing Bulan ini, terdapat penulis-penulis yang terkenal lihai dalam menciptakan cerita-cerita yang indah dan memilki banyak makna dalam cerita tersebut. Dalam kumpulan cerpen ini memuat cerpen dari penulis “Taufik Ikram Jamil” yang membawakan cerita yang berjudul “Air Mata Batu”, “Zulkarnaen Ishak’ yang membawa cerita berjudul “Kitab dan Cermin”, “Isbedy Stiawan ZS” memberikan ceritanya yang berjudul “Dusun itu Kini Asing”, “Wayan Sunarta” menyajikan ceritanya yang berjudul “Reinkernasi”, “Sunlie Thomas Alexander” memperlihatkan ceritanya yang berjudul “Di Pelantaran ...

Ulasan Kumpulan Cerpen "Rindu Ladang Padang Ilalang" Karya M. Fudoli Zaini

Penulis : M.Fudoli Zaini Cetakan pertama, juli 2002 Penyunting : Imam Risdiyanto Penerbit : Yayasan Bentang Budaya Muhammad Fudoli (1942-2007) : Salah seorang cerpenis terkemuka yang berasal dari kalangan santri. Lahir di Sumenep, 8 Juli 1942 dan meninggal di Surabaya pada 2007 dalam usia 65 tahun. Awalnya ia menggunakan nama M. Fudhaly atau M. Fudoli Zaini, tetapi kemudian ia lebih sering menggunakan nama ‘Muhammad Fudoli’ saja. Menurut saya cerpen rindu ladang padang ilalang ini banyak menceritakan kerinduannya pada alam yang terdahulu, damai, sejuk dan nyaman untuk kehidupan. Dalam kumpulan cerpen ini yang paling saya suka pada cerita rindu hujan. Judul rindu hujan menceritakan kehidupan nyata yang memang saat ini terjadi. Cerpen ini memiliki banyak sub judul yaitu meliputi : Rindu Hujan, Nona Takasaki, Gigi, Kucing, Dua Manusia, Akhir Ninja, Burung Putih, Mata, Rindu Ladang Padang Ilalang, Rindu Laut, Suminten, dan Warisa. Segala yang ada dalam kumpulan cerpen ini...

Ulasan Kumpulan Cerpen Judul "Perempuan Kedua " Karya Labibah Zain

Pengarang : Labibah Zain Penerbit : Jalasutra Penyuting : Anwar Holid Desain Sampul : Lilin Saprina Tata Letak : Iryaspraha Perempuan Kedua adalah judul buku Kumpulan cerpen karangan Labibah Zain, terdapat tiga belas cerpen yang memuat pelbagai sudut dan keadaan perempuan. Cerpen ini memuat banyak cerita mengenai perempuan yang terlibat dengan pelbagai persoalan. Perempuan bisa tangguh, rapuh, setia, dan bisa pula membagi cinta menjadi perempuan kedua. Dalam kumpulan cerpen perempuan kedua, dari judul satu dengan yang lainnya bisa berkaitan dan tidak terlepas dari tema perempuan kedua, selain itu banyak hikmah yang dapat kita ambil dari cerpen ini. Kumpulan cerpen perempuan kedua meliputi Aina, Perempuan Kedua, Sepotong Wajah, Fragnmen Musim Gugur, Perempuan Pencari Dada Ibu, Celana Dalam, Kamar Berlumut, Layli, Mak’e, Perempuan Cahaya, Rumah di Seberang Kuburan, Awan Menangkap Rembulan, dan ditutup dengan judul Hari Ini Ada yang Mati Lagi. Cerpen pertama berjudul Ain...

Langkah-Langkah Sinematisasi Cerpen

A.     Sinopsis Guru Safedi FARIZAL SIKUMBANG Safedi adalah seorang guru honorer yang memiliki seorang istri dan mereka belum memiliki keturunan. Namun, dengan penghasilannya yang pas-pasan bahkan dapat dikatakan kurang untuk menghidupi mereka, 60rb/bulan. Dengan penghasilan sebesar itu tidak cukup untuk menghidupi dua orang dalam rumah tangga itu. Istrinya terus saja menangis, meratapi nasibnya, mereka harus menanggung hutang  kepada orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya. Kemiskinan hidup yang dialami Safedi membuatnya gelisah, gundah, dan merasa bersalah. Sehingga membuat lulusan S1 Bahasa Indonesia itu tidak bersemangat dalam mengajar di sekolah. Gunjingan demi gunjingan datang menimpanya hingga suatu hari seorang laki-laki menghujatnya sebagai guru yang tidak pecus dan dicap sebagai pemakan uang BOS. B.      Pemain dan Tim Sutradara: Tugiyanto Penulis Skenario: Khoyriyah Asadah Kameramen: Lina Dini Rosadi Wardroop d...

Gantikan Ia dalam Pelukku Karya Khoyriyah Asadah

Gantikan Ia dalam Pelukku Senja ditemani kopi di meja bersama kekasih yang baik hatinya. Lengkap, sangat lengkap ku kira kebahagianku dalam dunia. Keluarga yang hidup harmonis, teman-teman yang selalu setia padaku, dan kekasih yang sangat mencintaiku. Tak ada masalah, pasti aku akan bahagia hingga tua. (Aku tegaskan dalam pikirku, sambil tersenyum bersama senja). Malam minggu, malam yang panjang katanya. Bagiku tidak, tetap ada 24 jam pada hati itu. Sama seperti hari-hari lainnya dalam seminggu. Aku lebih suka hari Jumat, dimana kekasihku selalu ke rumahku setelah sholat jumat. Siang itu, bersama matahari yang hangatkan kita. Kekasihku berkata, “Aku mencintaimu, sayang”. (Sambil minum es teh yang aku hidangkan). Kata-kata yang sering dijumpai sdepasang kekasih. Namun, baru pertamakalinya ia berkata seperti itu, apalagi dengan nada yang manis. Semenjak waktu itu, ketika kau mengatakan sayang, saat itu hatiku senyap dan jantungku berdegup kencang. Engkau jadikan aku p...

Pedang Ujung Kematian Karya Khoyriyah Asadah

Pedang Ujung Kematian             Siang ini, terik mentari begitu menyengat. Teriakan Samiun terdengar begitu keras dan membuat desa sepi ini menjadi ramai hingga udara semakin panas. Samiun yang tidak tahan lagi dengan kelakukan istrinya yang bernama Hayati. Paras cantik yang diimbangi dengan kemolekan tubuhnya, namun apa daya dia wanita pejudi. Pejudi yang tak mensyukuri hasil jerih payah suaminya. Hingga sang suami tak dapat menahan amarahnya siang itu. Beruntung, tak adakorban kala itu, hanya istri-istri tetangga yang mencibir rumah tangga mereka.             Senja yang indah awali jumpa Samiun dengan Dasima di perbukitan samping desa. Dasima yang sedang mencuci pakaian dan Samiun yang hendak menyegarkan pikirannya dengan jalan-jalan sore. Hingga bertemu dalam pandangan pertama antara Samiun dan Dasima yang mampu hilangkan sejuta rasa kesal Samiun.   ...

Setangkai Bunga dalam Sepi Karya Khoyriyah Asadah

Setangkai Bunga dalam Sepi Malam yang tengik, di jalanan terdengar samar seretan langkah kaki menapaki jalanan hingga terlihat kapalan kaki semakin menebal, setebal tekat anak kecil ini tuk pertahankan hidupnya.  “Ya, tekatku dalam hidup. Ini hidupku, siapa lagi yang akan berjuang, jika bukan aku? Toh, ini hidupku.” Sholeh dalam hati bergumam seraya mengingat kejadian semalam. Seorang ibu yang sering mendongeng untuknya, menghilang setelah ia terlelap dalam tidurnya. Mentari pun menunjukkan kecerahannya melalui sela-sela kardus yang bolong hingga menusuk dimatanya. “Ibu, dimana ibu?” teriakku setelah bangun dari lelapku, aku mencari dimana ibuku. Sela-sela sudut telah ku temui, tak ku temukan juga rupanya. Hilang, benar-benar hilang dan menghilang. Semalam ku mendengar beliau bersenandung dalam dongeng. Ibu jahat, tega meninggalkanku sendirian. Sendiri, benar-benar sendiri, sepi, menepi dalam diam dan ku termangu.   Terakhir ibu berkata, “Anakku Burhan, jangan pern...